Unduh Disini
Linguistik Umum
Rabu, 15 Januari 2014
Rabu, 25 Desember 2013
Wacana
WACANA
A.
Pengertian Wacana
Wacana adalah satuan bahasa yang
lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal
tertinggi dan terbesar.
Sebagai satuan bahasa yang lengkap,
maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang
utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar
(dalam wacana lisan) tanpa keraguan apapun. Sebagai satuan gramatikal tertinggi
atau terbesar, wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan
gramatikal, dan persyaratan kewacanaan lainnya. Persyaratan gramatikal dapat
dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekohesifan, yaitu adanya
keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana sehingga isi
wacana apik dan benar.
B. Alat Wacana
Alat-alat
gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif,
antara lain:
Pertama, konjungsi, yakni alat untuk
menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat; atau menghubungkan paragraf dengan
paragraph.
Seperti
wacana berikut :
(217) Raja sakit. Pemaisuri meninggal.
Hubungan
menjadi jelas, sebab kalau misalnya diberi konjungsi dan menjadi wacana sebagai
berikut :
(218a) Raja sakit dan permaisuri meninggal.
(218b) Raja sakit karena permaisuri meninggal.
(218c) Raja sakit ketika pemaisuri meninggal.
(218d) Raja sakit sebelum permaisuri meninggal.
(218e) Raja sakit. Oleh karena itu, permaisuri
meningggal.
(218f) Raja sakit, sedangkan permaisuri
meninggal.
Kedua, menggunakan kata ganti dia, nya,
mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis.
(219) Rombongan mahasiswa
pengunjuk rasa itu mula_mula mendatangi kantor menteri dalam negeri. Sesudah
itu mereka dengan tertib menuju
gedung DPR di Senayan.
(220) Anak itu terpeleset, lalu
jatuh ke sungai. Beberapa orang yang lewat mencoba menolongnya.
(221) Awan tebal bergumpal-gumpal
menutupi langit Jakarta. Itu tandanya
hujan lebat akan turun.
Ketiga, menggunakan elipsis, yaitu
penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat yang lain.
(222) Teman saya yang duduk di
pojok itu namanya Ali; dia berasal dari Yogyakarta. Yang di ujung sana Ahmad
dari Jakarta. Yang di sebelah gadis berbaju merah itu Nurdin dari Medan.
Tanpa
elipsis wacana tersebut pada (222) terasa menjadi tidak efektif, karena terlalu
banyak menggunakan kata, dan terasa menjadi tidak ada penghubung antara kalimat
yang satu dengan kalimat lainnya. Perhatikan wacana (223) berikut yang berasal
dari (222) tanpa diberi elipsis.
(223) Teman
saya yang duduk di pojok itu namanya Ali; dia berasal dari Yogayakarta. Teman
saya yang duduk di ujung sana itu namanya Ahmad; dia berasal dari Jakarta.
Teman saya yang duduk di sebelah gadis
berbaju merah itu namanya Nurdin; dia berasal dari Medan.
Selain
dengan upaya gramatikal, sebuah wacana yang kohesif dan koheren dapat juga
dibuat dengan bantuan berbagai aspek semantik, antara lain:
Pertama, menggunakan hubungan pertentangan
pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam wacana itu.
(224) Saya datang, anda pergi.
Saya hadir, anda absen. Maka, mana mungkin kita bisa bicara.
Kedua, menggunakan hubungan generik –
spesifik; atau sebaliknya spesifik – generik.
(225) Pemerintah berusaha menyediakan
kendaraan umum sebanyak-banyaknya dan akan berupaya mengurangi mobil-mobil
pribadi.
Ketiga, menggunakan hubungan perbandingan
antara isi kedua bagian kalimat; atau isi antara dua buah kalimat dalam satu
wacana.
(226) Dengan cepat disambarnya tas
wanita pejalan kaki itu. Bagai elang menyambar anak ayam.
Keempat, menggunakan hubungan sebab – akibat
di antara isi kedua bagian kalimat; atau isi antara dua buah kalimat dalam satu
wacana.
(227) Pada pagi hari bus selalu
penuh sesak. Bernapas pun susah di dalam bus itu.
Kelima,
menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana.
(228) Banyak jembatan layang
dibangun di Jakarta. Supaya kemacetan lalu lintas teratasi.
Keenam, menggunakan hubungan rujukan yang
sama pada dua bagian kalimat atau pada dua kalimat dalam satu wacana.
(229) Kebakaran sering melanda
Jakarta. Kalau dia datang Si Jago Merah itu tidak kenal waktu, siang atau pun
malam.
B.
Jenis Wacana
Berbagai
jenis wacana dapat disesuaikan dari sudut pandang mana wacana itu dilihat. Pertama-tama
dilihat dari adanya wacana lisan dan wacana tulis melalui sarana bahasa lisan
atau bahasa tulis.
Dilihat dari
penggunaan bahasa apakah dalam bentuk uraian ataukah bentuk puitik dibagi
menjadi wacana prosa dan wacana puisi. Wacana prosa, dilihat dari penyampaian
isinya dibedakan menjadi wacana narasi, wacana eksposisi, wacana persuasi dan
wacana argumentasi.
Leech
mengklasifikasikan wacana berdasarkan fungsi bahasa seperti dijelaskan berikut
ini;
§ Wacana
ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis
sebagai sarana ekspresi, seperti wacana pidato;
§ Wacana
fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi,
seperti wacana perkenalan pada pesta;
§ Wacana
informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti
wacana berita dalam media massa;
§ Wacana
estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan
pesan, seperti wacana puisi dan lagu;
§ Wacana
direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra
tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.
Berdasarkan
saluran komunikasinya, wacana dapat dibedakan atas; wacana lisan dan wacana
tulis. Wacana lisan memiliki ciri adanya penutur dan mitra tutur,bahasa yang
dituturkan, dan alih tutur yang menandai giliran bicara. Sedangkan wacana tulis
ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, bahasa yang dituliskan dan penerapan
sistem ejaan.
Wacana dapat
pula dibedakan berdasarkan cara pemaparannya, yaitu wacana naratif, wacana
deskriptif, wacana ekspositoris, wacana argumentatif, wacana persuasif, wacana
hortatoris, dan wacana prosedural.
D.
Subsatuan Wacana
Dari
pembicaraan di atas dapat dikatakan bahwa wacana adalah bahasa yang utuh yang
lengkap. Maksudnya dalam wacana ini satuan “ide” dan “pesan” yang disampaikan
akan dapat di pahami pendengar atau pembaca dalam keraguan, atau tanpa merasa
adanya kekurangan infomasi dari ide atau pesan yang tertuang dalam wacana itu.
mungkin ada ide atau pesan yang sangat sempit atau sedikit, sehingga cukup
diwujudkan dalam satu kalimat seperti (236) berikut :
(236) Jagalah kebersihan !
Tetapi
mungkin juga ada yang agak besar atau agak luas, sehingga perlu diwujudkan
dalam dua tiga tiga kalimat atau lebih, seperti tulisan yang biasa kita lihat
di muka pintu masuk mesjid atau mushala.
(237) Bukalah alas kaki (sepatu, sendal, dan
lain-lain).
Kebersihan
adalah sebagian daripada iman.
Kalau isi
wacana itu berupa masalah keilmuan yang cukup luas, diuraikan berdasarkan
persyaratan suatu karangan ilmiah, maka wacana itu akan menjadi sangat luas,
mungkin bisa puluhan atau ratusan halaman panjangnya. Jika demikian, maka
biasanya wacana itu akan dibagi-bagi
dalam beberapa bab; setiap bab akan dibagi lagi atas beberapa subbab; setiap
subbab disajikan dalam beberapa paragraf, atau juga subparagraph. Setiap
paragraf biasanya berisi satu gagasan atau pikiran utama, yang disertai dengan
sejumlah pikiran penjelas.
Pikiran
utama itu berwujud satu kalimat utama; dan setiap pikiran penjelas berupa
kalimat-kalimat penjelas.
Oleh karna
itu, dalam hal wacana itu berupa karangan ilmiah, maka dapat dikatakan bahwa
wacana itu dibanguni oleh subsatuan atau sub-subsatuan wacana yang disebut bab,
subbab, paragraf, atau juga subparagraf.
Namun, dalam, wacana-wacana singkat sub-subsatuan wacana itu tentu tidak
ada.
Dalam wacana
berupa karangan ilmiah, dibangun oleh subsatuan atau sub-subsatuan wacana yang
disebut bab, subbab, paragraf, atau juga subparagraf. Namun, dalam wacana
–wacana singkat sub-subsatuan wacana tidak ada.
Sintaksis
Dalam
pembahasan sintaksis yang bisa dibicarakan adalah (1) struktur sintaksis,
mencakup masalah fungsi, kategori, dan peran sintaksis; serta alat – alat yang
digunakan yang digunakan dalam membangun struktur sintaksis itu; (2) satuan –
satuan sintaksis yang berupa kata, frase, klausa, kalimat, dan wacana; dan (3)
hal – hal lain yang berkenaan dengan sintaksis, seperti masalah modus, aspek,
dan sebagiannya.
6.1 STRUKTUR SINTAKSIS
Secara umum
struktur sintaksis itu terdiri dari susunan subjek(S),predikat(P),objek(O),dan
keterangan(K).Fungsi sintaksis itu yang terdiri dari susunan S,P,O,dan K itu
merupakan “kotak-kotak kosong” atau “tempat-tempat kosong” yang tidak mempunyai
arti apa-apa karena kekosongannya.Pengisi fungsi-fungsi itu berupa
kategori sintaksis yang mempunyai peran-peran sintaksis.
Misalnya
kalimat: Dia tinggal di Jakarta. Frase di Jakarta yang memnduduki
fungsi keterangan tidak dapat dihilangkan sebab konstruksi *Dia tinggal di
Jakarta berterima. Ada pakar lain, yaitu chafe (1970) yang menyatakan bahwa
yang paling penting dalam struktur sintaksis adalah fungsi predikat.Munculnya
fungsi-fungsi lain sangat tergantung pada tipe atau jenis vebra itu.
Mengenai
harus munculnya sebuah objek pada kalimat yang predikatnya berupa vebra
tarnsitif, ternyata dalam bahsa Indonesia ada sejumlah vebra transitif yang
objeknya tidak selalu ada atau keberadaannya dapat ditinggalkan. Verba
transitif yang objeknya tidak perlu muncul atau dapat ditanggalkan ini adalah
vebra yang secara semantik menyatakan “kebiasaan” atau verba itu mengenai orang
pertama tunggal atau orang banyak secara uum.
Akibat lain
dari konsep bahwa subjek harus selalu di isi oleh nomina, misalnya kata “berenang”
pada kalimat berenang menyehatkan tubuh dianggap sebagai kategori
nomina.
Mengenai
kategori kata,sudah di bicarakan pada bab morfologi menjadi pertikaian terutama
bahasa Indonesia, namun konsep bahwa setiap subjek harus nominal dan
predikat berkategori verba. Makna gramatikal unsur-unsur leksikal yang
mengisi fungsi sintaksis sangat tergantung pada tipe atau jenis
kategori kata yang mengisi fungsi predikat dalam struktur sintaksis itu.
Pengisi fungsi subjek akan memiliki peran yang mengelami . Pengisi fungsi itu
sendiri dapat memberi peran‘’aktif’’ seperti dalam kalimat berikut;
Nenek menghitamkan
rambutnya’’aktif’’
Rambutnya itu di hitamkan’’pasif’’
Kulitnya mulai menghitam’’proses’’
Rambutnya sangat hitam’’keadaan’’
Pengisi
fungsi subjek dan objek, antara lain dapat memiliki peran pelaku,
Eksistensi struktur sintaksis terkecil di topang oleh,kita sebut saja
urutan kata,bentuk kata,dan intonasi. Hal ini juga ditambah konektor yang
biasanya berupa konjungsi.Peranan ketiga alat sintaksis itu(yaitu urutan
kata,bentuk kata, dan intonasi). Tampaknya tidak sama antara bahasa
yang lain. Ada bahasa mementingkan urutan, bentuk kata, tetapi juga
lebih,mementingkan intonasi.
`Urutan kata ialah letak atau
posisi kata yang satu dengan kata yang lain dalam suatu konstruksi
sintaksis. Dalam bahasa Indonesia ini sangat penting. Perbedaan
kata dapat menimbulkan perbedaan makna,umpanya dalam kalimat ‘’pialang
makan petola’’ kita mengetahui makna gramatikal tersebut. Pialang adalah
pelaku dan petola adalah sasaran.meskipun kalimat pialang makan
petola perubahan urutan kata menyebabkan terjadinya perubahan
makna gramatikal kalimat tersebut. Misalnya, tadi pagi nenek
melirik kakek, di pindah menjadi nenek melirik kakek tadi pagi.
Yakni hubungan antara fungsi predikat dan fungsi objek
dalam kalimat transitif aktif sangat erat, tidak mungkin di pisahkan.
Dalam bahasa kata ini sangat penting, tetapi dalam bahasa lain
terutama bahasa berfleksi seperti latin , urutan kata ini
sangat tidak penting, artinya urutan kata itu dapat di pertukarkan
tanpa mengubah makna gramatikal kalimat tersebut. Bahasa latin berperan
mutlak, bahasa Indonesia tidak, karena hampir tidak mempunyai peranan
sedangkan bahasa Indonesia mempunyai peranan yang penting.
Fungsi objek
dalam bahasa Indonesia lebih umum ditentukan urutan kata atau posisi. Alat
sintaksis ketiga, yang di dalam bahasa tulis tidak dapat di gambarkan
secara akurat dan teliti. Yang akibatnya seringkali menimbulkan
kesalahpahaman adalah intonasi. Bahasa tampaknya intonasi sangat penting,
juga dalam bahasa Indonesia. Dalam bahasa belanda untuk
membentuk kalimat bermodus interogatif , selain intonasi juga
ada perubahan posisi atau urutan fungsi subjek-predikat menjadi
predikat – subjek. Batas antara subjek dan predikat dalam bahasa Indonesia di
tandai dengan intonasi berupa nada naik dan tekanan. Kelompok kata atau
frase dalam bahasa Indonesia batasnya juga sering di tandai dengan
tekana pada kata terakhir, seringkali terjadi kesalahpahaman akibatnya
dari kesalahan menafsirkan kontruksi tersebut , yakni memberi tekanan pada
tempat yang berbeda.
Alat sintaksis yang keempat adalah konektor, biasanya berupa sebuah morfem atau
gabungan morfem yang secara kuantitas merupakan kelas yang tertutup. Satu
konstituen dengan konstituen lain baik yang berada dalam kalimat maupun yang
erada di luar kalimat. Dilihat dari sifat hubungannya dibedakan adanya dua
macam konektor, yaitu konektor koordinatif dan konektor subordinatif. Konektor
koordinatif adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen yang sama
kedudukannya atau yang sederajat. Konjungsi koordinatif seperti dan, atau,
dan tetapi dalam bahasa Indonesia adalah konektor koordinatifr
Contoh : Nenek dan kakek
pergi berburu
Konektor subordinatif adalah konektor yang menghubungkan dua buah konstituen
yang kedudukannya tidak sederajat. Maksudnya, konstituen yang satu merupakan
konstituen atasan dan konstituen yang lain merupakan konstituen bawahan.
Konjungsi kalau, meskipun, dan karena dalam bahasa
Indonesia adalah konektor subordinatif.
Contoh :Kalau diundang, saya
tentu akan datang
6.2 Kata Sebagai Satuan Sintaksis
Dalam tataran morfologi kata merupakan satuan terbesar (satuan
terkecilnya adalah morfem); tetapi dalam tataran sintaksis kata merupakan
satuan terkecil, yang secara hirekial menjadi komponenn pembentuk satuan
sintaksis yang lebih besar, yaitu frase.Sebagai satuan terkecil dalam
sintaksisi, kata berperan sebagai pengisi fungsi sintaksis, sebagai
penanda kategori sintaksis, dan sebagai perangkai dalam penyatuan satuan –
satuan dari sintaksis.
Kata sebagai pengisi satuan sintaksis dibedakan menjadi dua macam, yaitu kata
penuh (fullword) dan kata tugas (funcionword).Kata penuh adalah
kata yang secara leksisal memiliki makna, mempunyai kemungkinan untuk
mengalamai proses morfologi, merupakan kelas terbuka, dan dapat bersendiri
sebagai sebuah tuturan. Sedangkan kata tugas adalah kata yang secara leksikal
tidak mempunyai makna, tidak mengalami proses morfologi, merupakan kelas
tertutup, dan di dalam peraturan dia tidak dapat bersendiri.
Yang merupakan kata penuh adalah kata – kata yang termasuk kategori nomina,
verbal, adjektiva, adverbial, dan numeralia.Sedangkan yang termasuk kata tugas
adalah kata p kata yang berkategori preposisi dan konjungsi.
6.3 Frase
Dalam sejarah studi linguistik istilah frase banyak digunakan dengan
per=ngertian yang berbeda – beda. Di sini istilah frase tersebut digunakan
sebagai satuan sintaksis yang satu tingkat berada di bawah satuan klausa, atau
satu tingkat berada di atas satuan kata.
6.3.1 Pengertian Frase
Frase lazim didefinisikan sebagai satuan gramatikal yang berupa gabungan kata
yang bersifat nonpredikatif, atau lazim disebut gabungan kata yang mengisi
salah satu fungsi sintaksis di dalam kalimat.Frase terdiri lebih dari satu
kata.Pembentuk frase harus berupa morfem bebas, bukan berupa morfem
terikat.Konstruksi belum makan dan tanah tinggi adalah frase
karena morfemnya bebas (tidak terikat).Frase adalah konstruksi nonpredikatif,
artinya hubungan antara kedua unsur yang membentuk frase itu tidak berstruktur subjek
– predikat atau berstruktur predikat – objek.Oleh karena itu,
konstruksi seperti adik mandi dan menjual sepeda bukan frase;
tetapi konstruksi kamar mandi dan bukan sepeda adalah frase.Frase
adalah konstituen pengisi fungsi – fungsi sintaksis.Satu unsur frase itu tidak
dapat dipindahkan “sendirian”.Jika ingin dipindahkan, maka harus dipindahkan
secara keseluruhan sebagai satu kesatuan.
Kata majemuk sebagai komposisi
yang memiliki makna baru atau memiliki suatu makna. Sedangkan frase tidak
memiliki makna baru,melainkan makna sintaktik atau makna
gramatikal.contoh bentuk meja hijau yang berarti “pengadilan” adalah kata
majemuk sedangkan meja saya yang berarti “ saya punya meja” adalah sebuah
frase.Satu atu dua komponen kata majemuk berupa morfem dasar
terikat,bedanya dengan frase bahwa kedua komponen frase selalu terdiri dari
morfem bebas atau bentuk yang benar-benar bersetatus kata.
6.3.2 Jenis Frase
Frase bisa
dibedakan dalam beberapa jenis, yaitu:
6.3.2.1 Frase Eksosentrik
Frase eksosentrik adalah frase yangkomponen-komponennya tidak
mempunyai prilaku sintaksis yang sama degan keseluruhannya.
contoh: frase di pasar,yang
terdiri dari komponen di dan komponen pasar.
Frase
eksosentrik biasanya dibedakan atas frase eksosentrik direktif dan frase
eksosentrik nondirektif. Frase eksosentrik direktif komponen pertamanya berupa
preposisi,seperti di,ke,dan dari, dan komponen keduanya
berupa kata atau kelompok kata, yang biasanya berkatagori
nomina.sedangkan frase eksosentrik nondirektif komponen pertamanyan berupa
artikulasi,seperti si dan sang atau kata lain seperti yang,para,dan
kaum, sedangkan komponen keduanya berupa kata atau kelompok kata
berkatagori nomina, ajektifa atau verb. Misalnya:si miskin,sng ,mertua, yang
kepalanya botak,para remaja masjid.
6.3.2.2 Frase Endosentrik
Frase endosentrik adalah frase yang salah satu unsurnya memiliki perilaku
sinaksis yang sama dengan keseluruhannya.artinya,slaha satu komponennya
itu dapat menggantikan kedudukan keseluruhananya.misalnya,sedang
membaca,komponen keduanya yaitu membaca dan dapat mengantikan kedudukan frase
tersebut, sehinga menjadi kalimat: nenek sedang membaca komik dika
komar,nenek membaca komik dikamar.
Frase
ini disebut juga frase modifikatisif karena komponen keduanya,yaitu
komponen yangb bukan inti atau hulu (Inggrishead) mengubah atau membatasi
makana komponen inti atau hulunya.
Dilihat dari katagori intinya dapat dibedakan antara frase nominal,verbal,ajektival
dan numeral.yang dimksut dengan frasa nominal adalah frase yang intinya berupa
nomina atau Promina. Umpamanya, bus sekolah, kecap manis, karya besar dan guru
muda.frase nominal dalam sintaksis dapat mengantikan kedududkan kata
nominal sebagai pengisi salah satu fungsi sintaksis.yang dimaksut dengan
frase verbal adalah frase yang intinya berupa kata verb; maka oleh karena
itu,frase ini dapat mengantikan kedudukan kata verbal didalam
sintaksis.contoh : sedang membaca,sudah mandi,makan lagi dan tidak akan
datang. Yang dimaksut dengan frase ajektifa yang intinya berupa kata
ajektifa.contoh: sangat cantik,indah sekali, merah jambu,dan kurang baik.yang
dimaksut dengan frase numeral adalah frase yang intinya berupa kata
numral.misalnya ,tiga belas,seratus dua puluh lima,satu setangah terliun.
6.3.2.3 Frase Koordinatif
Frase
kordinatif adalah frase yang komponen pembentukannya terdiri dari dua komponen
atau yang lebih sama dan sederajat,dan secara potensial yang dapat dihubungakan
oleh konjungsi koordinatif,baik yang tugal seperti dan,atau,tetapi,maupun
konjungsi terbagi seperti baik..baik,makin…makin,dan baik…maupun.
6.3.2.4 Frase Aspositif
Frase aspositif adalah frase koordinatif yang kedua komponennya saling
merunjuksesamanya,dan oleh karena itu,urutan komponenya dapat dipertukarkan.
Misalnya, frase apositif Pak
Ahmad guru saya, dapat di ubah susunanya menjadi
Pak Ahmad,guru saya,rajin sekali
Guru saya,Pak Ahmad,rajin sekali
6.3.3 Perluasan Frase
Salah satu ciri frase adalah bahwa frase itu dapat diperluas .maksutnya,frase
itu dapat diberi tambahan komponen baru sesuai dengan konsep atau pengertian
yang akan ditampilkan.
Contohnya,frase di kamar tidur dapat
diperluas dengan di beri komponen baru, misalnya, berupa kata saya,ayah, atau
belakang sehingga menjadi di kamar tidur saya,di kamar tidur ayah,dan di kamar
tidur belakang.
Dalam bahasa Indonessia perluasan frase ini tampaknya sangat
produktif.Karena pertama, untuk menyatakan konsep-konsep khusus,atau sangat
khusus,atau sangat khusus sekali, dan biasanya diterangkan secara leksial.
Faktor kedua yang menyebabkan perluasaan prase dalam
bahasa indonesia ini sangat produktif adalah mengungkapkan konsep
kala,modalitas,aspek,jeis jumlah, ingkar,dan pembatas tidak
dinyataakan dengan afisk seperti dalam bahasa-bahasa
fleksi,melainkan dinyatakan dengan unsur leksikal.Misalnya , dalam frase tidak
akan hadir,dalam frase bukan hanya tidak akan hadir sekaligus ada
pengungkapan konsep ingkar nominal dengan kata bukan.
Berapa panjang frase dalam bahas indonesia yang mungin dpat
terjadi sebagai akibat penumpukan berbagai konsep didalam frase itu?
Tergantung kepada keperluan konsep apa saja yang ingin diugkapan dalam sebuah
frase.
Faktor lainn yang menyebakan produktifnya perluasan frase
dalam bahasa indonesia aadlah keprlun untuk memberi dekripsi secar terperinci
terhadap suatau konsep,terutama untuk konsep nomina.
6.4 Klausa
Klausa merupakan tataran didalam sintaksis yang berbeda diatas tataran
frase dan dibawah tataran kalimat.
6.4.1 Pengertian Klausa
Klausa adalah satuan sintaksi bderupa runtunan kata-kata berkontruksi
pedikatif.Artinya, didalam kontruksi itu ada komponen berupa kata
atau frase,yang berfungnsi sebagia predikat; dan yang lain berfungsi
sebgai subjek, objek dan sebagia keterangan. Dapat disimpulkan bahwa klausa
memang berpotensi untuk menjadi kalimat tunggal karena di dalamnya tidak ada
fungsi sintaksis wajib, yaitu subjek dan predikat.
Istilah – istilah fungsi sintaksis yaitu, subjek, predikat, objek, dan
keterangan.Subjek adalah sebagai pokok dasar atau hal, yang ingin dinyatakan
oleh pembicara atau penulis.Predikat adalah pernyataan mengenai subjek
itu.Sedangkan objek terbagi menjadi dua, yaitu objek langsung adalah objek yang
merupakan sasaran dari tindakan yang dinyatakan oleh predikat tersebut, dan
objek tak langsung adalah objek yang memperoleh manfaat dari tindakan itu.
Keterangan merupakan bagian dari klausa yang memberi informasi tambahan,
misalnya; mengenai waktu terjadi, tempatnya, tujuannya, dan sebagiannya yang
disebut predikat.
6.4.2 Jenis Klausa
Jenis klausa dapat dibedakan berdasarkan strukturnya dan berdasarkan kategori
segmental yang menjadi predikat.Berdasarkan strukturnya dapat dibedakan adanya
klausa bebas dan klausa terikat.Klausa bebas adalah klausa yang mempunyai unsur
– unsur lengkap, sekurang – kurangnya mempunyai subjek dan predikat; dank arena
itu, mempunyai potensi menjadi kalimat mayor.Contohnya nenek masih cantik
dan kakekku gagah berani.
Berbeda dengan klausa bebas yang mempunyai struktur lengkap, maka klausa
terikat memiliki struktur yang tidak lengkap.Klausa terikat ini tidak mempunyai
potensi untuk menjadi kalimat mayor.contohnya: kontruksi tadi yang bisa
menjadi kalimat jawaban untuk kalimat tanya: kapan nenek membaca komik?
; atau kontruksi membaca komik yang bisa menjadi kalimat jawaban
untuk kalimat taya.
Klausa
terikat dapat dikenali dengan adanya konjungsi subordinatif di
depannya.contohya: klausa terikat ketika kami sedang belajar di dalam
kalimat Dia pingsan ketika kami belajar.
Klausa
terikat yang di awali dengan konjungsi suburdinatif biasanya dikenal dengan
namaklausa suburdinatif atau klausa bawaan. Sedangkan klausa lain
yang hadir bersama dengan klausa bawahan daslam sebuah kalimat majemuk disebut klausa
atasan atau klausa utama.Berdasarkan usur segmental yang menjadi
predikat dapat di bedakan adanya klausa yaitu: klausa verbal adalah klausa yang
predikatnya berkatagori verba: misalnya,klausa nenek mandi,kakek
menari,sapi itu berlari dan matahari itu terbit
Berbagai tipe verba yaitu: 1. Klausa
transitip, yaitu klausa yang predikatnyaberupa verba transitif,contoh nenek
menulis surat.
2. Klausa intransitif,yaitu klausa
yang predikatya berupa verba intransitif,contoh nenek menangis 3. Klausa
refliksif,yaitu kalusa yang predikatnya berupa verba refliksif,contoh
Nenek sedang berdandan 4. Klausa
resiprokal yaitu klausa yang predikatnya berupa verbal resiplokal contoh mereka
bertengkar sejak kemarin
Klausa
nominnal adalah klausa yang predikatnya berupa nominal atau frase nominal
contoh : Kakeknya petani di desa itu
Dia dulu dosen linguistik
Pacarnya satpam bank swasta
Jika contoh di atas diberi
kataadalah atau ialah maka klausa- klausa tersebut bukanlah
klausa nominal.
Contoh kata yang di beri kata
adalah dan kata yang tidak diberi adalah.
Yang perlu di kerjakan pada massa
orde baru sekarang menjelang PJPT 11 peningkatan kegiatan pembagunan
Yang perlu di kerjakan pada massa
orde baru sekarang menjelang PJPT 11 adalah peningkatan kegiatan
pembagunan.
Karena verba
kopula adalah dan ialah kalimat yang unsur objeknya cukup panjang
,maka kata adalah dan ialah sebagai kata pemisah.
Klausa
ejektifal adalah klausa yang predikatnya berkatagori ajektifa baik berupa kata
atau frase.contoh: Ibu dosen itu cantik,gedung itu sudah tua sekali
Klausa adverbial adalah klausa yang
predikatnya berupa adverbia misalnya,klausabandelnya teramat sangat .
Klausa
preposisional adalah klausa yang predikatnya berupa frase berkatagori
preposisi. Contohya: nenek di kamar, dia dari medan.
Klausa
numeral adalah klausa klausa yang predikatnya berupa kata atau frase
numeralia.contohnya: gajih lima juta satu sebulan,anaknya dua belas.
Klausa berpusat adalah klausa yang
sobjeknya terikat di dalam predikatnya, meskipun ditempat lain ada nomina yang
berlaku sebagain objek seperti bahasa arab dan bahasa latin.contohya:
Aqrq ul qur’qn
‘saya mambaca
quran’
Ana aqra ul qur’an ‘saya mambaca quran’
Amavi
‘saya sudah cinta’
6.5 KALIMAT
Sintaksis
adalah ilmu tentang kalimat .atau ilmu mengenai penataan kalimat.
6.5.1 Pengertian kalimat
“Kalimat
adalah susunan kata-kata yang teratur yang berisi pikiran yang lengkap”
merupakan definisi umum yang bisa kita jumpai.”kalimat adalah lafal yang
tersusun dari dua buah kata atau lebih yang mengandung arti serta berbahasa
arab” dianggap sebagai devinisi yang sudah baku. Menurut konsep kalimat adalah
satuan sintaksis yang disusun konstituen dasar,yang berupa klausa,dengan
konjungsi bila diperlukan,serta dengan intonasi final.
Dari rumus di atas dapat kita
simpulkan bahwa yang menjadi dasar kalimat adalah konstitue dasar biasanya
beruapa klausa.Dari rumus itu disimpulkan bahwa konstituen dasar itu bisa juga
tidak berupa klausa.
Contoh kalimat yang baik dalam
bahasa Indonesia :
Nenek membaca komik di kamar,
sedangkan kakek membaca buku lupus di kebun.
Ketika nenek membaca di kamar, kakek
merokok di kebun
Nenek saya! (sebagai kalimat jawab
terhadap kalimat taya: Siapa yang duduk disana?)
Komik! (sebagai kalimat terhadap
kalimat taya: Buku apa yang dibaca nenek?)
Intonasi final yang memberi ciri
kalimat ada tiga buah, yaitu intonasi deklaratif (di lambangkan dengan
tanda titik). Intonasi interogatif (yang ditandai dengan tanda taya) dan
intonasi seru (ditandai dengan tanda seru).
6.5.2 Jenis Kalimat
Jenis
kalimat dapat dibedakan berdasarkan berbagai kriteria atau sudut pandang.
6.5.2.1 Kalimat Inti dan Kalimat
Non-Inti
Kalimat inti
juga bisa disebut kalimat dasar,adalah kalimat yang dibentuk dari klausa inti
yang lengkap bersifat deklaratif,aktif atau netral,dan afircmatif.
Contohnya :
a.
FN+FV
: Nenek datang
b.FN+FV+FN
:Nenek membaca komik
c.
FN+FV+FN+FN :Nenek membacakan kakek komik
d.
FN+FN
:Nenek dokter
e.
FN+FA
:Nenek cantik
f. FN+Fnum
:Uang dua
juta
g.
FN+FP
:Uangnya di dompet
Keterangan :
a)
FN= Frase
Nominal
FV= Frase
Verbal
FA= Frase
Ajektifal
FNum=
Frase Numeral
FP= Frase
Preposisi
b)
FN dapat di
isiolehsebuah kata nominal,FVdapatdiisiolehsebuah kata
verbal,FAdapatdiisiolehsebuah kata AjektifdanFNumdapatdiisiolehsebuah kata
numeral.
Kalimatinidapatdiubahmenjadikalimatnonontidenganberbagaiprosesetransformasi,seperti
transformasi pemasifan,pengingkaran,penayaan,pemerintahan,penginversian,pelepasan,dan
penambahan.
6.5.2.2 Kalimat Tunggal dan Kalimat
Majemuk
Perbedaan kalimat tunggal dan kalimat majemuk berdasarkan banyaknya kalusa yang
ada di dalam kalimat itu.Kalau klausanya hanya satu, maka kalimat tersebut
disebut kalimat tunggal.
Kalau klausa
di dalam kalimat terdapat lebih dari satu, maka kalimat itu disebut kalimat
majemuk.Berkenaan dengan sifat hubungan klausa – klausa di dalam kalimat, maka
dibedakan adanya kalimatmajemuk koordinatif (kalimat majemuk setara)
yaitu kalimat majemuk yang klausa – klausanya memiliki status yang sama, yang
setara, atau yang sederajat. Yang kedua adalah kalimat majemuk subordinatif(kalimat
majemuk bertingkat) yaitu kalimat majemuk yang hubungan antara klausa –
klausanya tidak setara atau sederajat.Yang terakhir adalah kalimat majemuk
kompleks (kalimat majemuk campuran) yaitu kalimat yang terdiri dari tiga
klausa atau lebih, di mana ada yang dihubungkan secara koordinatif da nada pula
yang dihubungkan secara subordinatif.
6.5.2.3 Kalimat Mayor dan Kalimat
Minor
Pembedaan
kalimat mayor dan kalimat minor dilakukan berdasarkan lengkap dan tidaknya
klausa yang menjadi konstituen dasar kalimat itu.Kalu kalimatnya lengkap
sekurang-kurangnya memiliki unsure subjek dan predikat, maka kalimat itu
disebut kalimat mayor. Contoh kalimat mayor
Nenek berlari pagi
Bu dosen itu cantik sekali
Irak dan Iran sudah berdamai
Kalau
klausanya tidak lengkap entah hanya terdiri dari subjek saja, predikat saja,
objek saja ataukah keterangan saja, maka kalimat tersebut disebut kalimat
minor.Kalimat minor ini walaupun strukturnya tidak lengkap namun bisa dipahami
karena konteksnya dapat dipahami oleh pendengar maupun pembicara konteks ini
bisa berupa konteks kalimat, konteks situasi atau juga konteks topick
pembicara. Jadi, kalimat-kalimat jawaban singkat, kalimat seruan, kalimat
perintah,kalimat salam dan sebagainya adalah termasuk kalimat minor. Contoh
kalimat minor
Sedang makan ( sebagai kalimat
jawaban dari kalimat Tanya : Nenek sedang apa ?
Halo !
Dilarang merokok
6.5.2.4 Kalimat Verbal dan Kalimat
non-Verbal
Secara umum
dapat dikatakan kalimat verbal adalah kalimat yang dibentuk dari klausa verbal,
atau kalimat yang predikatnya berupa kata atau frase yang berkaegori
verba.Sedangkan kalimat nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan kata
atau frase vebal, bisa nominal, adjektfal, adverbial, atau juga numeralia.
Berkenaan
dengan banyaknya jenis verba, maka biasanya dibedakan pula adanya kalimat
transitif, kalimat intransitive, kalimat aktif, kalimat pasif, kalimat dinamis,
kalimat statis,kalimat refleksif, kalimat resiprokal, dan kalimat ekuatif.
Kalimat
transitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba transitif, yaitu verba
yang biasanya diikuti oleh sebuah objek kalau verba tersebut bersifat
monotransitif, dan diikuti oleh dua buah objek kalau verbanya berupa verba
bitransitif.
Contoh kalimat monotransitif : Dika
menendang bola
Contoh kalimat
bitransitif : Dika membelikan Nita sebuah
kamus bahasa Jepang
Ada sejumlah
verba transitif yang tidak perlu diikuti objek tanpa disebutkan objeknya
kalimat tersebut sudah gramatikal dan bisa dipahami.Contohnya :
Nita sedang minum
Nenek belum makan
Untuk contoh
kalimat (1) objeknya sudah jelas adalah air dan untuk kalimat (2) objeknya
adalah nasi.
Kalimat
intransitif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba intransitif, yaitu
verba yang tidak memiliki objek.Contohnya :
Nenek menari
Kakek berlari ke kamar mandi
Ayah belum dating
Kalimat
aktif adalah kalimat yang predikatya kata kerja aktif.Verba aktif biasanya
ditandai dengan preiks me- atau memper-. Contoh kalimat aktif :
Surat ditulis kakek
Siaran sepak bola didengarkan nenek
Kalimat
pasif adalah kalimat yang predikatnya berupa verba pasif.Verba pasif biasanya
ditandai dengan prefiks di- atau diper-. Contoh kalimat pasif :
Surat ditulis kakek
Siaran sepak bola ditonton nenek
Dalam
linguistik ada kalimat pasif yang tidak dapat dijadikan aktif.Cotohnya : Kakek
kecopetan tadi pagi
Contoh kalimat aktif yang tidak
dapat dijadikan pasif : Dia tidak menyerupai ibunya
Kalimat
dinamis adalah kalimat yang predikatnya berupa verba yang secara semantis
menyatakan tindakan atau gerakan.Contohnya :
Mahasiswa itu pulang
Dia pergi begitu saja
Kalimat
statis adalah kalimat yang preikatnya berupa verba yang secara semantic tidak
menyatakan tindakan atau gerakan.Contohnya :
Anaknya sakit keras
Dia tidur dikursi
6.5.2.4 Kalimat Verbal dan Kalimat
non-Verbal
Kalimat
nonverbal adalah kalimat yang predikatnya bukan verba ; bisa nomina atau frase
nominal,bisa ajektifa atau frase ajektifal, bisa kelas numeral dan bisa juga
berupa frase preposisional. Contoh kalimat nonverbal :
Mereka bukan pendudukan desa sini
Mereka rajin sekali
Penduduk Indonesia185 juta jiwa
6.5.2.5 Kalimat Bebas dan Kalimat
Terikat
Kalimat
bebas adalah kalimat yang mempunyai potensi untuk menjadi ujaran lengkap
lengkap atau dapat memulai sebuah paragraph atau wacana tanpa bantuan kalimat
atau konteks lain yang menjelaskannya. Sedangkan kalimat terikat adalah
kalimat yang tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran lengkap atau menjadi
pembuka paragraph atau wacana tanpa bantuan konteks.Biasanya kalimat terikat
ini menggunakan tanda ketergantungan.Perhatikan teks berikut.
Sekarang di Riau amat sukar mencari terubuk (1).Jangankan ikannya, telurnya pun
sangat sukar diperoleh (2). Kalau pun bisa diperoleh, harganya melambung
selangit(3). Makanya ada kecemasan masyrakat nelayan di sana bahwa terubuk yang
spesifik itu akan punah (4).
Kalimat (1) pada teks di atas Sekarang
di Riau amat sukar mencari terubuk adalah salah satu kalimat bebas tanpa
harus diikuti oleh kalimat (2), (3), dan (4), kalimat tersebut sudah dapat
menjadi ujaran lengkap yang bisa dipahami. Sedangkan kalimat (2),(3), dan (4)
pada teks itu adalah kalimat terikat, ketiga kalimat itu secara sendiri-sendiri
tidak dapat dipahami sehingga tidak dapat berdiri sendiri sebagai ujaran. Bukti
keterkaitan ketiga kalimat tersebut ditandai dengan penanda anaforis berupa –nya
da konjugasi antarkalimat makanya, oleh karena itu dan jadi.
6.5.3 Intonasi Kalimat
Intonasi merupakan salah satu alat sintaksis yang sangat penting, dapat
berwujud tekanan, nada, dan tempo, dapat bersifat fonemis pada bahasa – bahsa
tertentu.Artinya, ketiga unsur supragmental itu dapat membedakan makna kata
karena berlaku nada, tekanan atau tempo pada bahasa – bahsa tertentu berssifat
morfemis, artinya berlaku sebagai morfem.
Sebuah
klausa yang sama, artinya terdiri dari unsur segmental yang sama, dapat menjadi
kalimat deklaratif atau kalimat interogatif hanya dengan mengubah intonasinya.
Intonasi merupakan ciri utama yang membedakan kalimat dari sebuah klausa, sebab
bisa dikatakan: kalimat minus intonasi sama dengan klausa; atau kalau dibalik:
klausa plus intonasi sama dengan kalimat. Jadi, kalau intonasi dari sebuah
kalimat ditanggalkan maka sisanya yang tinggal adalah klausa.
Ciri-ciri
intonasi: tekanan, tempo, dan nada. Tekanan adalah ciri-ciri suprasegmental
yang menyertai bunyi ujaran.Tempo adalah waktu yang dibutuhkan untuk melafalkan
suatu arus ujaran.Nada adalah unsur suprasegmental yang diukur berdasarkan
kenyaringan suatu segmen dalam suatu arus ujaran.
Penelitian
intonasi sintaksis bahasa Indonesia yang cukup komprehensif telah dilakukan
oleh Halim (1974); Alieva juga telah melakukannya dengan cukup baik (1991).
Dalam bahasa Inggris ada Lieberman (1975); dan O’Connor dan Arnold (1974,
cetakan pertama 1961).Tanda yang digunakan untuk menggambarkan intonasi itu
berbeda-beda.Ada yang menggunakan skema grafiks seperti Alieva (1991); ada yang
menggunakan angka seperti contoh dari Halim diatas.Sedangkan O’Connor dan
Arnold menggunakan bulatan titik bertangkai yang besarnya berbeda.
6.5.4 Modus, Aspek, Kala, Modalitas,
Fokus, dan Diatesis
Modus adalah
pengungkapan atau penggambaran suasana psikologis perbuatan menurut tafsiran si
pembicara atau sikap pembicara tentang apa yang diucapkannya. Ada beberapa
macam modus, antara lain: (1) modus indikatif atau modus atau modus deklaratif,
yaitu modus yang menunjukan sikap objektif atau netral; (2) modus optatif,
yaitu modus yang menunjukan harapan atau keinginan; (3) modus imperatif, yaitu
modus yang menyatakan perintah, larangan, atau tegahan; (4) modus interogatif,
yaitu modus yang menyatakan pertanyaan; (5) modus obligatif, yaitu modus yang
menyatakan keharusan; (6) modus desideratif, yaitu modus yang menyatakan
keinginan atau kemauan; dan (7) modus kondisional, yaitu modus yang menyatakan
persyaratan.
Aspek adalah
cara untuk memandang pembentukan waktu secara internal di dalam suatu situasi,
keadaan, kejadian, atau proses. Berbagai macam aspek, antara lain: (1) aspek
kontinuatif, yaitu yang menyatakan perbuatan terus berlangsung; (2) aspek
inseptik, yaitu yang menyatakan peristiwa atau kejadian baru mulai; (3) aspek
progresif, yaitu aspek yang menyatakan perbuatan sedang berlangsung; (4) aspek
repetitif. Yaitu yang menyatakan perbuatan itu terjadi berulang-ulang; (5)
aspek perfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan sudah selesai; (6) aspek
imperfektif, yaitu yang menyatakan perbuatan yang berlangsung sebentar, dan (8)
aspek sesatif, yaitu yang menyatakan perbuatan berakhir.
6.5.4.3 Kala
Kala atau tenses adalah informasi dalam kalimat yang menyatakan waktu
terjadinya yang disebutkan dalam predikat. Kala lazimnya menyatakan waktu
sekarang,lampau, dan akan dating. Kala itu secara morfemis artinya, pernyataan
kala ditandai dengan bentuk kata tertentu pada verbanya. Perhatikan bahasa
jepang berikut,sebelah kiri kala sekarang, dan sebelah kanan kata lampau.
Dalam bahasa Indonesia banyak orang
mengelirukan konsep kala dengan konsep keterangan waktu sebagai fungsi
sintaksis; sehingga mereka mengatakan kata sudah,sedang dan akan
adalah keterangan waktu.Padahal keterangan waktu dan lainnya pada fungsi
sintaksis memberi keterangan keseluruhan kalimat.Posisinya dapat dipindah
keawal kalimat atau lainnya; sedangkan kala terikat pada predikatnya.Ada satu
kekeliruan lagi,yaitu dalam tata bahasa tradisional istilah keterangan
digunakan untuk dua konsep,yaitu konsep fungsi sintaksis dan konsep kategori
sintaksis,maka konstruksi seperti dirumah,kemarin dulu,dan nanti
malam disebut berkategori kata keterangan (adverbia).Ketiganya dapat
mengisi fungsi keterangan tetapi bukan keterangan (adverbial).
6.5.4.4 Modalitas
Modalitas adalah keterangan yang menyatakan sikap pembicara yaitu mengenai
perrbuatan,keaddaan dan peristiwa atau juga sikap kepada lawan bicara.Dapat berupa
pernyataan kemungkinan,keinginan atau keizinan.Dalam bahasa Indonesia dan
bahasa lain modalitas dinyatakan secara leksikal.Contoh :
(190) Barangkali
dia tidak akan hadir.
Petani Indonesia sebaiknya mendirikan koperasi.
Anda seharusnyatidak datang terlambat.
Kalian boleh tidur disini.
Saya ingin anda membantu anak-anak itu.
Ada beberapa jenis modalitas; (1) modalitas intensional,yaitu
yang menyatakan keinginan,harapan,permintaan dan ajakan; (2) modalitas
epistemic,yaitu yang menyatakan kemungkinan,kepastian dan keharusan; (3) modalitas
deontik,yaitu yang menyatakan keizinan dan keperkenanan; dan (4) modalitas
dinamik,yaitu yang menyatakan kemampuan.Contoh keempat modalitas
secara berurutan :
(191) Nenek ingin
menunaikan ibadah haji.
(192) Kalau tidak
hujan kakek pasti datang.
(193) Anda boleh
tinggal disini sampai besok.
(194) Dia bisa
melakukan hal itu kalau diberi kesempatan.
6.5.4.5 Fokus
Fokus adalah unsure yang menonjolkan bagian kalimat sehingga perhatian
pendengar dan pembaca tertuju pada bagian itu.Ada bahasa yang mengungkapkan
fokus ini secara mofemis dengan menggunakan afiks tertentu,ada pula dengan cara
lain.Dalam bahasa Tagalog di Filipina yang menempati fungsi subjek ditandai
dengan artikulus ang.Contoh :
(195) Bumili ang Nanay
ng saging sa tindahan para sa bata.
(196) Binili ng
Nanay ang saging sa tindahan para sa bata.
(197) Binilhan ng
Nanay ng saging ang tindahan para sa bata.
(198) Ibinili ng
Nanay ng saging sa tindahan ang bata.
Terjemahan
untuk kalimat (195) ‘Ibu membeli pisang ditoko untuk anak’.Kata pertama adalah
kata kerja. Arti kata yang lain: Nanay ‘ibu, saging ‘pisang’,
tindahan ‘toko’, dan bata ‘anak’. Yang bercetak tebal adalah
subjek.
Pertama, memberi
tekanan pada yang difokuskan. Umpamanya dalam kalimat ‘Dia menangkap
ayam saya’, kalau memberi tekanan pada kata ‘dia’ berarti yang
melakukan adalah dia bukan orang lain. Kalau pada kata ‘menangkap’
berarti yang dilakukan adalah menangkap bukan memotong atau mencuri.Kalau pada
kata ‘ayam’ berarti yang ditangkap adalah ayam bukan itik.
Kedua, dengan mengedepankan bagian kalimat yang difokuskan.Umpamanya
kalimat hal itu telah disampaikan kepada DPR oleh pemerintah adalah
susunan biasa. Jika difokuskan pada pelakunya,yaituoleh pemerintah hal itu
telah disampaikan kepada DPR.
Ketiga, dengan cara memakai partikel pun,yang,tentang,danadalah
pada bagian kalimat yang difokuskan. Contoh :
(199) Membaca pun
aku belum biasa.
(200) Yang tidak
berkepentingan dilarang masuk.
(201) Tentang
anak-anak itu,biarlah kami urus nanti.
(202) Adalah tidak
pantas kalau hal itu kau katakan kepadanya.
Keempat, dengan mengontraskan dua bagian kalimat.Misalnya :
(203) Bukan dia
yang datang, melainkan istrinya.
(204) Ini jendela,
bukan pintu.
(205) anak Bapak
bukan bodoh, melainkan kurang rajin.
Kelima, dengan menggunakan konstruksi posesif anaforis
beranteseden.Misalnya :
(206) Bu dosen
linguistik itu pacarnya seorang konglomerat.
(207) Ayah saya
sepedanya bannya kempes
Namun, konstruksi (206) dan (207)
ini sangat “diharamkan” oleh banyak guru bahasa. Konstruksi itu menurut mereka seharusnya
:
(206a) Pacar Bu dosen
linguistik itu seorang konglomerat.
(207a) Ban sepeda ayah saya
kempes.
6.5.4.6 Diatesis
Diatesis adalah gambaran hubungan antara pelaku atau peserta dengan perbuatan
yang dikemukakan.beberapa macam diathesis; (1) diatesis aktif,subjek
yang melakukan perbuatan; (2) diatesis pasif,subjek menjadi sasaran
perbuatan; (3) diatesis refleksif,jika subjek melakukan sesuatu terhadap
dirinya sendiri; (4) diatesis resipokal,subjek yang terdiri dari dua
pihak berbuat tindakan berbalasan; (5) diatesis kausatuf, subjek menjadi
penyebab terjadinya sesuatu. Contoh berurutan :
(208) Mereka
merampas uang kami
(209) Uang kami
dirampasnya
(210) Nenek kami
sedang berhias
(211) Kiranya
mereka akan berdamai juga
(212) Kakek
menghitamkan rambutnya
Langganan:
Postingan (Atom)