WACANA
A.
Pengertian Wacana
Wacana adalah satuan bahasa yang
lengkap, sehingga dalam hierarki gramatikal merupakan satuan gramatikal
tertinggi dan terbesar.
Sebagai satuan bahasa yang lengkap,
maka dalam wacana itu berarti terdapat konsep, gagasan, pikiran, atau ide yang
utuh, yang bisa dipahami oleh pembaca (dalam wacana tulis) atau pendengar
(dalam wacana lisan) tanpa keraguan apapun. Sebagai satuan gramatikal tertinggi
atau terbesar, wacana dibentuk dari kalimat-kalimat yang memenuhi persyaratan
gramatikal, dan persyaratan kewacanaan lainnya. Persyaratan gramatikal dapat
dipenuhi kalau dalam wacana itu sudah terbina kekohesifan, yaitu adanya
keserasian hubungan antara unsur-unsur yang ada dalam wacana sehingga isi
wacana apik dan benar.
B. Alat Wacana
Alat-alat
gramatikal yang dapat digunakan untuk membuat sebuah wacana menjadi kohesif,
antara lain:
Pertama, konjungsi, yakni alat untuk
menghubung-hubungkan bagian-bagian kalimat; atau menghubungkan paragraf dengan
paragraph.
Seperti
wacana berikut :
(217) Raja sakit. Pemaisuri meninggal.
Hubungan
menjadi jelas, sebab kalau misalnya diberi konjungsi dan menjadi wacana sebagai
berikut :
(218a) Raja sakit dan permaisuri meninggal.
(218b) Raja sakit karena permaisuri meninggal.
(218c) Raja sakit ketika pemaisuri meninggal.
(218d) Raja sakit sebelum permaisuri meninggal.
(218e) Raja sakit. Oleh karena itu, permaisuri
meningggal.
(218f) Raja sakit, sedangkan permaisuri
meninggal.
Kedua, menggunakan kata ganti dia, nya,
mereka, ini, dan itu sebagai rujukan anaforis.
(219) Rombongan mahasiswa
pengunjuk rasa itu mula_mula mendatangi kantor menteri dalam negeri. Sesudah
itu mereka dengan tertib menuju
gedung DPR di Senayan.
(220) Anak itu terpeleset, lalu
jatuh ke sungai. Beberapa orang yang lewat mencoba menolongnya.
(221) Awan tebal bergumpal-gumpal
menutupi langit Jakarta. Itu tandanya
hujan lebat akan turun.
Ketiga, menggunakan elipsis, yaitu
penghilangan bagian kalimat yang sama yang terdapat kalimat yang lain.
(222) Teman saya yang duduk di
pojok itu namanya Ali; dia berasal dari Yogyakarta. Yang di ujung sana Ahmad
dari Jakarta. Yang di sebelah gadis berbaju merah itu Nurdin dari Medan.
Tanpa
elipsis wacana tersebut pada (222) terasa menjadi tidak efektif, karena terlalu
banyak menggunakan kata, dan terasa menjadi tidak ada penghubung antara kalimat
yang satu dengan kalimat lainnya. Perhatikan wacana (223) berikut yang berasal
dari (222) tanpa diberi elipsis.
(223) Teman
saya yang duduk di pojok itu namanya Ali; dia berasal dari Yogayakarta. Teman
saya yang duduk di ujung sana itu namanya Ahmad; dia berasal dari Jakarta.
Teman saya yang duduk di sebelah gadis
berbaju merah itu namanya Nurdin; dia berasal dari Medan.
Selain
dengan upaya gramatikal, sebuah wacana yang kohesif dan koheren dapat juga
dibuat dengan bantuan berbagai aspek semantik, antara lain:
Pertama, menggunakan hubungan pertentangan
pada kedua bagian kalimat yang terdapat dalam wacana itu.
(224) Saya datang, anda pergi.
Saya hadir, anda absen. Maka, mana mungkin kita bisa bicara.
Kedua, menggunakan hubungan generik –
spesifik; atau sebaliknya spesifik – generik.
(225) Pemerintah berusaha menyediakan
kendaraan umum sebanyak-banyaknya dan akan berupaya mengurangi mobil-mobil
pribadi.
Ketiga, menggunakan hubungan perbandingan
antara isi kedua bagian kalimat; atau isi antara dua buah kalimat dalam satu
wacana.
(226) Dengan cepat disambarnya tas
wanita pejalan kaki itu. Bagai elang menyambar anak ayam.
Keempat, menggunakan hubungan sebab – akibat
di antara isi kedua bagian kalimat; atau isi antara dua buah kalimat dalam satu
wacana.
(227) Pada pagi hari bus selalu
penuh sesak. Bernapas pun susah di dalam bus itu.
Kelima,
menggunakan hubungan tujuan di dalam isi sebuah wacana.
(228) Banyak jembatan layang
dibangun di Jakarta. Supaya kemacetan lalu lintas teratasi.
Keenam, menggunakan hubungan rujukan yang
sama pada dua bagian kalimat atau pada dua kalimat dalam satu wacana.
(229) Kebakaran sering melanda
Jakarta. Kalau dia datang Si Jago Merah itu tidak kenal waktu, siang atau pun
malam.
B.
Jenis Wacana
Berbagai
jenis wacana dapat disesuaikan dari sudut pandang mana wacana itu dilihat. Pertama-tama
dilihat dari adanya wacana lisan dan wacana tulis melalui sarana bahasa lisan
atau bahasa tulis.
Dilihat dari
penggunaan bahasa apakah dalam bentuk uraian ataukah bentuk puitik dibagi
menjadi wacana prosa dan wacana puisi. Wacana prosa, dilihat dari penyampaian
isinya dibedakan menjadi wacana narasi, wacana eksposisi, wacana persuasi dan
wacana argumentasi.
Leech
mengklasifikasikan wacana berdasarkan fungsi bahasa seperti dijelaskan berikut
ini;
§ Wacana
ekspresif, apabila wacana itu bersumber pada gagasan penutur atau penulis
sebagai sarana ekspresi, seperti wacana pidato;
§ Wacana
fatis, apabila wacana itu bersumber pada saluran untuk memperlancar komunikasi,
seperti wacana perkenalan pada pesta;
§ Wacana
informasional, apabila wacana itu bersumber pada pesan atau informasi, seperti
wacana berita dalam media massa;
§ Wacana
estetik, apabila wacana itu bersumber pada pesan dengan tekanan keindahan
pesan, seperti wacana puisi dan lagu;
§ Wacana
direktif, apabila wacana itu diarahkan pada tindakan atau reaksi dari mitra
tutur atau pembaca, seperti wacana khotbah.
Berdasarkan
saluran komunikasinya, wacana dapat dibedakan atas; wacana lisan dan wacana
tulis. Wacana lisan memiliki ciri adanya penutur dan mitra tutur,bahasa yang
dituturkan, dan alih tutur yang menandai giliran bicara. Sedangkan wacana tulis
ditandai oleh adanya penulis dan pembaca, bahasa yang dituliskan dan penerapan
sistem ejaan.
Wacana dapat
pula dibedakan berdasarkan cara pemaparannya, yaitu wacana naratif, wacana
deskriptif, wacana ekspositoris, wacana argumentatif, wacana persuasif, wacana
hortatoris, dan wacana prosedural.
D.
Subsatuan Wacana
Dari
pembicaraan di atas dapat dikatakan bahwa wacana adalah bahasa yang utuh yang
lengkap. Maksudnya dalam wacana ini satuan “ide” dan “pesan” yang disampaikan
akan dapat di pahami pendengar atau pembaca dalam keraguan, atau tanpa merasa
adanya kekurangan infomasi dari ide atau pesan yang tertuang dalam wacana itu.
mungkin ada ide atau pesan yang sangat sempit atau sedikit, sehingga cukup
diwujudkan dalam satu kalimat seperti (236) berikut :
(236) Jagalah kebersihan !
Tetapi
mungkin juga ada yang agak besar atau agak luas, sehingga perlu diwujudkan
dalam dua tiga tiga kalimat atau lebih, seperti tulisan yang biasa kita lihat
di muka pintu masuk mesjid atau mushala.
(237) Bukalah alas kaki (sepatu, sendal, dan
lain-lain).
Kebersihan
adalah sebagian daripada iman.
Kalau isi
wacana itu berupa masalah keilmuan yang cukup luas, diuraikan berdasarkan
persyaratan suatu karangan ilmiah, maka wacana itu akan menjadi sangat luas,
mungkin bisa puluhan atau ratusan halaman panjangnya. Jika demikian, maka
biasanya wacana itu akan dibagi-bagi
dalam beberapa bab; setiap bab akan dibagi lagi atas beberapa subbab; setiap
subbab disajikan dalam beberapa paragraf, atau juga subparagraph. Setiap
paragraf biasanya berisi satu gagasan atau pikiran utama, yang disertai dengan
sejumlah pikiran penjelas.
Pikiran
utama itu berwujud satu kalimat utama; dan setiap pikiran penjelas berupa
kalimat-kalimat penjelas.
Oleh karna
itu, dalam hal wacana itu berupa karangan ilmiah, maka dapat dikatakan bahwa
wacana itu dibanguni oleh subsatuan atau sub-subsatuan wacana yang disebut bab,
subbab, paragraf, atau juga subparagraf.
Namun, dalam, wacana-wacana singkat sub-subsatuan wacana itu tentu tidak
ada.
Dalam wacana
berupa karangan ilmiah, dibangun oleh subsatuan atau sub-subsatuan wacana yang
disebut bab, subbab, paragraf, atau juga subparagraf. Namun, dalam wacana
–wacana singkat sub-subsatuan wacana tidak ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar